Cerita tentang Siswa ABK-ku (bagian I)
Oleh: Dra. Siti Nur Hasanah
(Manajer Inklusif SMP Negeri 5 Surabaya)
Sejak
aku berkecimpung di dunia pendidikan Inklusif setahun yang lalu, aku
menjadi orang yang semakin pandai bersyukur, sabar, dan melakukan
segalanya dengan HATI. Betapa tidak, melihat siswa/i ABK-ku yang beragam
kekurangan/kelebihan dan kondisinya, membuat aku semakin ingin berbuat
sesuatu untuk mereka. Meskipun aku sama sekali tidak memiliki latar
belakang pendidikan luar biasa/PLB. Tidak peduli tantangan dan rintangan
yang terus menghadang langkahku karena tidak semua guru memiliki
persepsi dan pemikiran yang yang sama terhadap penyelenggaraan
pendidikan Inklusif yang tengah kami emban.
Hampir
setiap hari aku menemui kenyataan-kenyataan pahit yang harus aku terima
dari teman-teman sejawat yang berkenaan dengan perilaku siswa/i ABK-ku.
Baik berupa sikap maupun cemooh/kata-kata yang menyakitkan. Tapi semua
itu aku terima dengan lapang dada. Masalah-masalah yang muncul dalam
perjalanan, aku anggap sebagai bagian dari tugas dan tanggung jawabku
sebagai manajer Inklusif di sekolah kami. Meski kadang mebuatku kecewa
atau sakit hati karenanya. Itu manusiawi karena memang aku hanya manusia
biasa.
Siswa/i ABK SMPN 5 Surabaya TP 2011-2012 (Dokumen Pribadi)
Pendidikan
Inklusif adalah sistem layanan pendidikan yang memberikan kesempatan
atau akses yang seluas-luasnya kepada semua anak termasuk anak berkebutuhan khusus, untuk memperoleh pendidikan yang bermutu dan memberikan layanan pendidikan sesuai dengan kebutuhan individu peserta didik tanpa diskriminasi.
Dalam
penyelenggaraan pendidikan Inklusif, siswa/i ABK (Anak Berkebutuhan
Khusus) ditempatkan sekelas dengan siswa/i reguler. Di tiap-tiap kelas
reguler terdapat dua/tiga ABK. Dengan harapan dan tujuan agar siswa/i
ABK dapat bersosialisasi dan berteman dengan anak-anak sebayanya dan
tidak merasa diasingkan/dibedakan. Di kelas-kelas yang terdapat sisw/i
ABK yang agak berat, seperti autis, ditempatkan guru pendamping Khusus
(GPK) di samping guru pengajar utama di kelas tersebut.
Pendampingan Khusus (Dokumen Pribadi)
Di
antara masalah-masalah yang muncul, aku merasa terhibur oleh
perkembangan-perkembangan yang tampak pada siswa ABK-ku. Di antaranya
perkembangan dari salah satu siswa ABK-ku yang bernama ‘Mustofa’.
Dia mulai masuk di SMP Negeri 5 Surabaya (sebagai sekolah penyelenggara
pendidikan Inklusif) pada tahun pelajaran 2011-2012. Ia lahir di Sampang, 3 Januari 1996.
Awal masuk ke SMP Negeri 5 Surabaya, dia tidak bisa berbicara dalam
bahasa Indonesia, tetapi menggunakan bahasa Madura yang masih medok.
Kalau pun bisa memakai bahasa Jawa, memakai bahasa Jawa yang kasar. Di
samping itu, ia tampak selalu ketakutan dan tidak percaya diri. Satu
kata yang selalu diucapkan: “Mulih… Mulih…” [mulih(bahasa Jawa) =
pulang], dengan raut wajah yang tampak cemas dan ketakutan. Tubuhnya pun
suka gemetar dan keluar keringat dingin. Membacanya masih per suku
kata, begitu pun dengan menulisnya. Harus didiktekan per suku kata.
Namun pada bulan ketiga, ia sudah mulai bisa bersosialisasi dengan
teman-temannya. Rasa percaya dirinya sudah mulai tumbuh. Yang terpenting
lagi, sudah mulai betah di sekolah dan tidak minta pulang lagi sampai
jam pelajaran usai.
Bercerita dengan Alat Peraga (Dokumen Pribadi)
Dalam
kegiatan “Becerita dengan Alat Peraga” (materi pelajaran Bahasa
Indonesia), dengan semangatnya mengajukan diri untuk tampil, meski
dengan segala keterbatasan bahasa dan cara bercerita. Tapi bisa dilihat,
betapa percaya dirinya dia tampil di depan teman-teman sekelasnya.
Dalam pergaulan dengan teman-temannya pun, dia tampak begitu percaya
diri. Bahkan sekarang dia sudah mulai berani menyatakan suka kepada
teman perempuan yang cantik di kelasnya. Dan lucunya lagi, dia bisa
membuat undangan pernikahan yang mencantumkan namanya dan nama teman
cewek yang ditaksirnya, kemudian difotokopi di kios fotokopi yang berada
di lingkungan sekolah. Ada-ada saja anakku yang satu ini… Tapi aku
bersyukur, siswa/i regular setelah kami lakukan sosialisasi tentang
pendidikan Inklusif dan tentang keberadaan ABK di sekolah kami, mereka
semua pada care/peduli dan dapat menerima dengan tulus, melebihi
para guru yang bukan GPK (Guru Pendamping Khusus). Semoga ke depannya
akan semakin lebih baik dan semua warga di lingkungan SMP Negeri 5
Surabaya dapat menerima keberadaan siswa/i ABK dengan lapang dada dan
hati yang tulus ikhlas. Aamiin…
Gresik, 20 September 2012
——oo0oo——
http://edukasi.kompasiana.com/2012/09/20/cerita-tentang-siswa-abk-ku-bagian-i-495121.html



Tidak ada komentar:
Posting Komentar