Kamis, 19 Desember 2013

Cerita tentang Siswa ABK-ku (bagian I)

Cerita tentang Siswa ABK-ku (bagian I) 

Oleh: Dra. Siti Nur Hasanah

(Manajer Inklusif SMP Negeri 5 Surabaya)

Sejak aku berkecimpung di dunia pendidikan Inklusif setahun yang lalu, aku menjadi orang yang semakin pandai bersyukur, sabar, dan melakukan segalanya dengan HATI. Betapa tidak, melihat siswa/i ABK-ku yang beragam kekurangan/kelebihan dan kondisinya, membuat aku semakin ingin berbuat sesuatu untuk mereka. Meskipun aku sama sekali tidak memiliki latar belakang pendidikan luar biasa/PLB. Tidak peduli tantangan dan rintangan yang terus menghadang langkahku karena tidak semua guru memiliki persepsi dan pemikiran yang yang sama terhadap penyelenggaraan pendidikan Inklusif yang tengah kami emban.
Hampir setiap hari aku menemui kenyataan-kenyataan pahit yang harus aku terima dari teman-teman sejawat yang berkenaan dengan perilaku siswa/i ABK-ku. Baik berupa sikap maupun cemooh/kata-kata yang menyakitkan. Tapi semua itu aku terima dengan lapang dada. Masalah-masalah yang muncul dalam perjalanan, aku anggap sebagai bagian dari tugas dan tanggung jawabku sebagai manajer Inklusif di sekolah kami. Meski kadang mebuatku kecewa atau sakit hati karenanya. Itu manusiawi karena memang aku hanya manusia biasa.

Siswa/i ABK SMPN 5 Surabaya TP 2011-2012 (Dokumen Pribadi)


Pendidikan Inklusif adalah sistem layanan pendidikan yang memberikan kesempatan atau akses yang seluas-luasnya kepada semua anak termasuk anak berkebutuhan khusus, untuk memperoleh pendidikan yang bermutu dan memberikan layanan pendidikan sesuai dengan kebutuhan individu peserta didik tanpa diskriminasi.
Dalam penyelenggaraan pendidikan Inklusif, siswa/i ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) ditempatkan sekelas dengan siswa/i reguler. Di tiap-tiap kelas reguler terdapat dua/tiga ABK. Dengan harapan dan tujuan agar siswa/i ABK dapat bersosialisasi dan berteman dengan anak-anak sebayanya dan tidak merasa diasingkan/dibedakan. Di kelas-kelas yang terdapat sisw/i ABK yang agak berat, seperti autis, ditempatkan guru pendamping Khusus (GPK) di samping guru pengajar utama di kelas tersebut.
Pendampingan Khusus (Dokumen Pribadi)
Di antara masalah-masalah yang muncul, aku merasa terhibur oleh perkembangan-perkembangan yang tampak pada siswa ABK-ku. Di antaranya perkembangan dari salah satu siswa ABK-ku yang bernama ‘Mustofa’. Dia mulai masuk di SMP Negeri 5 Surabaya (sebagai sekolah penyelenggara pendidikan Inklusif) pada tahun pelajaran 2011-2012. Ia lahir di Sampang, 3 Januari 1996. Awal masuk ke SMP Negeri 5 Surabaya, dia tidak bisa berbicara dalam bahasa Indonesia, tetapi menggunakan bahasa Madura yang masih medok. Kalau pun bisa memakai bahasa Jawa, memakai bahasa Jawa yang kasar. Di samping itu, ia tampak selalu ketakutan dan tidak percaya diri. Satu kata yang selalu diucapkan: “Mulih… Mulih…” [mulih(bahasa Jawa) = pulang], dengan raut wajah yang tampak cemas dan ketakutan. Tubuhnya pun suka gemetar dan keluar keringat dingin. Membacanya masih per suku kata, begitu pun dengan menulisnya. Harus didiktekan per suku kata. Namun pada bulan ketiga, ia sudah mulai bisa bersosialisasi dengan teman-temannya. Rasa percaya dirinya sudah mulai tumbuh. Yang terpenting lagi, sudah mulai betah di sekolah dan tidak minta pulang lagi sampai jam pelajaran usai.

Bercerita dengan Alat Peraga (Dokumen Pribadi)

Dalam kegiatan “Becerita dengan Alat Peraga” (materi pelajaran Bahasa Indonesia), dengan semangatnya mengajukan diri untuk tampil, meski dengan segala keterbatasan bahasa dan cara bercerita. Tapi bisa dilihat, betapa percaya dirinya dia tampil di depan teman-teman sekelasnya. Dalam pergaulan dengan teman-temannya pun, dia tampak begitu percaya diri. Bahkan sekarang dia sudah mulai berani menyatakan suka kepada teman perempuan yang cantik di kelasnya. Dan lucunya lagi, dia bisa membuat undangan pernikahan yang mencantumkan namanya dan nama teman cewek yang ditaksirnya, kemudian difotokopi di kios fotokopi yang berada di lingkungan sekolah. Ada-ada saja anakku yang satu ini… Tapi aku bersyukur, siswa/i regular setelah kami lakukan sosialisasi tentang pendidikan Inklusif dan tentang keberadaan ABK di sekolah kami, mereka semua pada care/peduli dan dapat menerima dengan tulus, melebihi para guru yang bukan GPK (Guru Pendamping Khusus). Semoga ke depannya akan semakin lebih baik dan semua warga di lingkungan SMP Negeri 5 Surabaya dapat menerima keberadaan siswa/i ABK dengan lapang dada dan hati yang tulus ikhlas. Aamiin…
Gresik, 20 September 2012
——oo0oo——

http://edukasi.kompasiana.com/2012/09/20/cerita-tentang-siswa-abk-ku-bagian-i-495121.html


Tidak ada komentar:

Posting Komentar